Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki jumlah pengguna internet ke-6 terbesar di dunia, yaitu sejumlah 83,7 juta orang pada tahun 2014, dan akan terus berkembang setiap tahun nya (menurut lembaga riset pasar e-Marketer). Pada 2017, diperkirakan pengguna internet di Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban. Namun sayangnya aplikasi atau produk digital yang saat ini menguasai pasar internet di Indonesia didominasi oleh produk digital dari luar Indonesia (seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, Snapchat, Uber, dan lain-lain).
Ada beberapa produk digital buatan dalam negeri Indonesia yang sudah sukses dikenal di masyarakat akhir-akhir ini (Kaskus, Gojek, Traveloka, Tokopedia, Buka Lapak, dan lain-lain), akan tetapi tidak sebanding dengan jumlah pengguna internet di Indonesia, sehingga untuk itu dibentuklah gerakan 1000 Startup Digital, yang diharapkan dapat melahirkan perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi digital yang berkualitas dan memberikan dampak positif dengan menyelesaikan permasalahan besar di Indonesia. Gerakan 1000 Startup Digital ini ditargetkan dapat menciptakan 1000 perusahaan baru dengan total valuasi bisnis senilai USD 10 Miliar pada tahun 2020.
Kembali lagi, ke pemahaman judul di atas "Penciptaan sebuah Startup Digital adalah sebuah Pernikahan". Pernikahan adalah sebuah acara seremonial yang menyatukan dua insan menjadi satu (perubahan), untuk bersama-sama menjalani sebuah kehidupan berkeluarga. Pernikahan mudah dilakukan, tetapi berat untuk menjalankannya (perlu perjuangan untuk menjalankannya dan mempertahankan). Sama seperti sebuah Startup Digital, mudah untuk diciptakan tetapi susah untuk dijalani, perlu perjuangan untuk mengembangkan dan mempertahankannya, karena selama proses perjalanan pasti mengalami masalah-masalah, mirip seperti masalah-masalah yang dialami ketika menjalani bahtera rumah tangga.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, ketika menjalankan sebuah Startup Digital, seperti layaknya sebuah pernikahan:
1. Ketulusan
Sebuah startup digital diciptakan, sebaiknya berorientasi pada solusi pemecahan masalah, dan memberikan dampak perubahan yang bermanfaat bagi Indonesia, baru berharap untuk mendapatkan "materi" di urutan ke sekian. (Tidak bisa dipungkiri, kalau tidak mendapatkan income atau materi, tentu sebuah startup digital tidak bisa berjalan, karena untuk operasional pasti perlu dana).
2. Saling melengkapi
Membentuk sebuah startup digital, sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan kemampuan masing-masing, karena Tuhan menciptakan manusia dengan talenta berbeda-beda. Ada yang punya ide dan desain tetapi tidak bisa membuat program (Hipster), ada yang bisa membuat program tapi tidak memiliki ide (Hacker), ada yang memiliki tata cara komunikasi yang baik dan memiliki jaringan bisnis yang baik tetapi tidak punya ide dan tidak bisa membuat program (Hustler). Ketiga tipe ini harus saling melengkapi supaya dapat menjalankan srartup digital yang diciptakan untuk bisa berkembang.
3. Memilih partner yang tepat
Seperti pernikahan yang sehat, penciptaan sebuah startup digital yang sehat, didasari oleh pemilihan partner yang tepat. Karena memulai itu mudah, tetapi ketika menjalankan nya, akan banyak masalah-masalah yang timbul dan harus diselesaikan secara musyawarah, sesuai dengan skill masing-masing, yang terlibat dalam startup digital tersebut.
4. Tidak ada yang instan
Untuk mencapai kesuksesan, tidak ada yang instan, kecuali mie instan ^^.
Tidak ada yang mudah, semua perlu perjuangan. Menciptakan itu mudah, mengembangkan dan mempertahankan ini yang perlu perjuangan ekstra.
Perumpamaan "Penciptaan sebuah Startup Digital adalah sebuah Pernikahan" saya dapatkan dari pengalaman saya bersama tim, ketika mengembangkan MATTREAL: app solusi renovasi & bangun.

